Wajib Catat! 4 Hal yang Perlu Ibu Ketahui Tentang Diare pada Bayi
Kondisi BAB atau kotoran bayi biasanya berbeda-beda, baik itu dari segi tekstur, warna, serta baunya. Semua tergantung pada apa yang dikonsumsi bayi, entah itu ASI, susu formula, ataupun makanan padat. Sesekali, bayi bisa mengalami sembelit akibat BAB atau fesenya yang padat, tetapi terkadang, fesesnya juga bisa lebih encer.
Namun, jika tiba-tiba feses bayi menjadi semakin cair, lebih encer, sering, dan juga banyak, maka bisa jadi ia terkena diare.
Berikut 4 hal yang patut Ibu ketahui tentang diare pada bayi
Diare pada bayi bisa disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari perubahan makanan hingga infeksi usus. Berikut beberapa hal yang menyebabkan diare pada bayi:
Sering mencuci tangan sangat penting untuk mencegah diare, terutama sebelum dan sesudah makan, setelah mengganti popok, dan setelah menggunakan kamar mandi. Tetaplah jaga agar kamar mandi dan permukaan dapur tetap bersih serta pastikan Ibu melakukan penanganan makanan yang aman.
Pastikan Ibu menghubungi dokter jika si kecil menunjukkan tanda-tanda berikut ini. Ini adalah tanda-tanda atau gejala dehidrasi pada bayi.
Selain itu, cepat-cepatlah menghubungi dokter jika bayi berusia di bawah 6 bulan mengalami hal-hal berikut ini:
Bayi dengan diare berat yang mengalami dehidrasi harus menerima cairan intravena (IV) di rumah sakit.
Dokter anak mungkin menyarankan untuk memberikan bayi solusi rehidrasi oral (oralit). Solusi ini dijual umum dan berisi cairan elektrolit yang bisa mencegah atau mengobati dehidrasi.
Jika anak sudah mulai makan makanan padat, dokter anak akan merekomendasikan beralih ke makanan hambar, makanan bertepung seperti pisang, saus apel, dan sereal beras sampai diare berhenti. Ibu yang sedang menyusui mungkin juga perlu menyesuaikan pola makan dan menghindari makanan yang bisa memicu diare pada bayi mereka.
Baca juga: Makanan untuk Bayi yang sedang Diare
Nah, itulah beberapa hal yang patut diketahui mengenai diare pada bayi. Semoga bermanfaat.
Namun, jika tiba-tiba feses bayi menjadi semakin cair, lebih encer, sering, dan juga banyak, maka bisa jadi ia terkena diare.
Berikut 4 hal yang patut Ibu ketahui tentang diare pada bayi
1. Penyebab diare pada bayi
![]() |
Photo by Ignacio Campo on Unsplash
|
Diare pada bayi bisa disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari perubahan makanan hingga infeksi usus. Berikut beberapa hal yang menyebabkan diare pada bayi:
- Infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasite. Bayi bisa terkena bakteri dan virus yang menyebabkan diare melalui kontak dengan makanan atau air yang terkontaminasi, atau dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian membawanya ke mulut lewat tangan.
- Alergi makanan atau sensitivitas terhadap obat-obatan
- Minum terlalu banyak jus buah
- Keracunan
Sering mencuci tangan sangat penting untuk mencegah diare, terutama sebelum dan sesudah makan, setelah mengganti popok, dan setelah menggunakan kamar mandi. Tetaplah jaga agar kamar mandi dan permukaan dapur tetap bersih serta pastikan Ibu melakukan penanganan makanan yang aman.
2. Tanda-tanda dehidrasi pada bayi
Diare bisa mengubah keseimbangan normal air dan garam (elektrolit). Jika bayi kehilangan terlalu banyak elektrolit saat diare, maka ia bisa mengalami dehidrasi. Dehidrasi bisa terjadi dengan sangat cepat pada bayi, bahkan dalam waktu satu atau dua hari setelah diare mulai. Hal ini sangatlah berbahaya, terutama pada bayi baru lahir.Pastikan Ibu menghubungi dokter jika si kecil menunjukkan tanda-tanda berikut ini. Ini adalah tanda-tanda atau gejala dehidrasi pada bayi.
- Kencing berkurang dari biasanya (lebih sedikit popok basah)
- Sifat lekas marah
- Mulut kering
- Tidak ada air mata saat menangis
- Mengantuk yang tidak biasa atau bayi mengalami tampak lesu
- Ada titik cekung di bagian atas kepala bayi
- Kulit yang tidak elastis seperti biasa
Selain itu, cepat-cepatlah menghubungi dokter jika bayi berusia di bawah 6 bulan mengalami hal-hal berikut ini:
- Demam dari 102 derajat Fahrenheit (38 derajat selsius) atau lebih tinggi
- Nyeri perut
- Darah atau nanah dalam feses, atau tinja berwarna hitam, putih, atau merah
- Lesu luar biasa
- Muntah
3. Pengobatan untuk bayi yang sedang diare
![]() |
Photo by Colin Maynard on Unsplash
|
Dokter biasanya tidak merekomendasikan obat anti diare pada anak. Namun, dokter mungkin meresepkan antibiotik untuk infeksi bakteri atau obat anti-parasit untuk infeksi parasit.
Bayi dengan diare berat yang mengalami dehidrasi harus menerima cairan intravena (IV) di rumah sakit.
Dokter anak mungkin menyarankan untuk memberikan bayi solusi rehidrasi oral (oralit). Solusi ini dijual umum dan berisi cairan elektrolit yang bisa mencegah atau mengobati dehidrasi.
Jika anak sudah mulai makan makanan padat, dokter anak akan merekomendasikan beralih ke makanan hambar, makanan bertepung seperti pisang, saus apel, dan sereal beras sampai diare berhenti. Ibu yang sedang menyusui mungkin juga perlu menyesuaikan pola makan dan menghindari makanan yang bisa memicu diare pada bayi mereka.
Baca juga: Makanan untuk Bayi yang sedang Diare
4. Makanan yang harus dihindari bayi yang sedang diare
Jika bayi sudah mulai MPAsi, maka sebaiknya hindarkan beberapa jenis makanan berikut karena bisa memperburuk diare.- Makanan berminyak
- Makanan yang tinggi serat
- Produk susu seperti susu dan keju
- Permen seperti kue, cookies, dan soda
Nah, itulah beberapa hal yang patut diketahui mengenai diare pada bayi. Semoga bermanfaat.
Post a Comment for "Wajib Catat! 4 Hal yang Perlu Ibu Ketahui Tentang Diare pada Bayi"
Post a Comment